Oktober, selalu diperingati sebagai bulan Bahasa Indonesia. Sejak masih duduk di sekolah dasar (SD), kita sudah diajarkan penggunaan bahasa yang baik dan benar menurut ejaan yang disempurnakan (EYD).Tapi, enggak jarang kita masih menggunakan bahasa "gaul" dengan teman-teman sebaya, bahkan dengan kakak atau adik. Ini demi menghindari kesan kaku dalam bergaul dengan teman sepermainan.Namun sayangnya, pergeseran budaya yang mengadaptasi budaya barat, sampai akibat terlalu gaul, membuat bahasa-bahasa "planet" pun mengemuka. Generasi muda, dengan bangganya, memakai kata-kata tersebut agar dibilang ngetren. Benar demikian?
Generasi 70-90-an pasti tahu dong bahasa gaul atau bahasa ABG dan kerap disebut pula bahasa Prokem. Ini merupakan ragam bahasa Indonesia nonstandar yang lazim digunakan di Jakarta kala itu.Namun masih juga dipakai hingga saat ini, menggantikan bahasa Prokem yang lebih lazim dipakai pada tahun-tahun sebelumnya. Sintaksis dan morfologi ragam ini memanfaatkan sintaksis dan morfologi bahasa Indonesia dan dialek Betawi.Usai berkutat dengan bahasa gaul, yang sedang happening belakangan ini adalah "fenomena alay" di kalangan masyarakat Indonesia. Alay sendiri diartikan sebagai anak lebay (berlebihan) atau anak layangan.
Melansir Wikipedia, Selasa (8/10/2013), alay adalah sebuah istilah yang merujuk pada sebuah fenomena perilaku remaja di Indonesia. Istilah ini merupakan stereotipe yang menggambarkan gaya hidup norak atau kampungan, tak jarang bila mereka selalu berusaha untuk menarik perhatian.Nah, apalagi dalam gaya bahasa, terutama bahasa tulis. Alayers
(sebutan untuk para alay) ini merujuk pada kesenangan remaja
menggabungkan huruf besar-huruf kecil, menggabungkan huruf dengan angka
dan simbol, atau menyingkat secara berlebihan.
Sementara dalam gaya bicara, mereka berbicara dengan intonasi dan gaya yang berlebihan. Bahkan, mereka juga memiliki aturan huruf tersendiri, di mana para alayers hanya diperbolehkan memakai 13 abjad huruf saja serta sisanya angka dan simbol.Sejatinya, kita sebagai generasi muda meneruskan penggunaan EYD dalam bertutur kata, tapi apa daya, cap nggak gaul pun kerap langsung disematkan jika kita tidak menggunakan bahasa gaul, bahasa alay, sampai bahasa prokem. Tapi kalau bukan kita yang membudidayakannya, siapa lagi?
sumber: -sindikasi.net/warta/tren.masa.kini.bulan.bahasa.alay
-dokumentasi SMA N 1 Belitang
Sementara dalam gaya bicara, mereka berbicara dengan intonasi dan gaya yang berlebihan. Bahkan, mereka juga memiliki aturan huruf tersendiri, di mana para alayers hanya diperbolehkan memakai 13 abjad huruf saja serta sisanya angka dan simbol.Sejatinya, kita sebagai generasi muda meneruskan penggunaan EYD dalam bertutur kata, tapi apa daya, cap nggak gaul pun kerap langsung disematkan jika kita tidak menggunakan bahasa gaul, bahasa alay, sampai bahasa prokem. Tapi kalau bukan kita yang membudidayakannya, siapa lagi?
sumber: -sindikasi.net/warta/tren.masa.kini.bulan.bahasa.alay
-dokumentasi SMA N 1 Belitang











12 komentar:
good
terimakasih coment balik revaenalia.blogspot.com
good post :).. komen balik y dianaputriutami33.blogspot.com
waw foto2nya sangat menarik....dan postingan tentang materi bulan bahasa ini,cukup menambah pengetahuan saya lebih jauh..gomawo????jangan lupa coment balik maratussholikhahipa2.blogspot.com
NiCE KOMEN BALIK
deviandriyanis1.blogspot.com
bagus...jngan lupa komnt balik ats nma http://muklisinx1a3.blogspot.com
iyoo
lanjutkan.,..comback.,.!!
lanjutkan kawan,,,, coment balikkk
pipitanggrainyx1ipa3.blogspot.com
good posting,..
comback y di http://berthatiarahandayani.blogspot.com/2013/10/memperingati-hari-sumpah-pemuda.html#comment-form
iyooo
infonya menarik
Posting Komentar